Sabtu, 26 November 2011

Faktor Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika

Faktor Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika

Restu Novitasamya
(Universitas Pendidikan Indonesia)

Abstrak
Dalam sebuah proses pembelajaran ada sebuah acuan yang menjadi tolak ukur keberhasilan bagi siswa yaitu suatu pemahaman dan penerapan dari proses pembelajaran itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri terkadang siswa mempunyai kendala–kendala pada saat belajar matematika yang mengakibatkan siswa tersebut merasa kesulitan untuk belajar matematika. Bahkan, ada beberapa siswa yang malah merasa ketakutan terlebih dahulu dan mengatakan bahwa matematika itu sulit, padahal mereka sendiri belum mencoba untuk belajar matematika. Dalam pencapaian suatu keberhasilan selalu terdapat suatu faktor baik faktor pendorong maupun faktor penghambat yang dapat mempengaruhi siswa. Faktor pendorong merupakan suatu faktor yang dapat membuat suatu keberhasilan lebih cepat tercapai. Sedangkan, faktor penghambat dapat membuat suatu keberhasilan lebih lambat tercapai bahkan mungkin tidak tercapai sama sekali. Faktor penghambat juga dapat membuat siswa merasa minder dan kurang bersemangat. Salah satu proses pembelajaran yang melibatkan dua faktor tersebut adalah proses pembelajaran dalam matematika. Dalam proses pembelajaran matemnatika faktor–faktor tersebut selalu terlihat dengan jelas, terutama faktor penghambat. Hal itu dikarenakan tingkat pencapaian pamahaman dan penerapannya dikatakan sulit.
Kata kunci : FaktorKesulitan Siswa, Belajar Matematika

Pendahuluan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:312) “ Faktor adalah hal (keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan (mempengaruhi) terjadinya sesuatu …”. Faktor sangat berpengaruh terhadap suatu tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh siswa, dan faktor bisa dijadikan sebuah alasan dari sesuatu hal yang akan dilakukan.
Seorang siswa sangat rentan terhadap faktor–faktor yang ada di sekitar lingkungan mereka, dikarenakan karakteristik siswa yang masih labil. Oleh sebab itu, siswa dapat menjadi lebih aktif dan kreatif ketika selalu ada faktor pendorong, tetapi siswa bisa saja menjadi down ketika ada faktor penghambat pada saat proses pembelajaran, terutama belajar matematika.

Faktor Dalam Pembelajaran Matematika
Hal yang paling utama dalam sebuah proses pembelajaran matematika yaitu adanya interaksi yang baik antara guru dengan siswa agar dapat tercapainya keberhasilan dalam suatu proses pembelajaran matematika. Nuriana (2007) “Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, guru seharusnya mengetahui hakikat matematika itu sendiri, hakikat anak, dan cara mengajarkan matematika menurut teori yang diterapkan.”
Pada hakikatnya matematika itu adalah sebuah ilmu ukur yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari–hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:723) arti matematika itu sendiri adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Nuriana (2007) mengungkapkan bahwa “…matematika juga dipandang sebagai suatu bahasa, struktur logika, batang tubuh dari bilangan dan ruang, rangkaian metode untuk menarik kesimpulan, esensi ilmu terhadap dunia fisik, dan sebagai aktivitas intelektual.” “… matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. … matematika sebagai ilmu bantu dalam mengiterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan. Sujono (Nuriana, 2007).
Pada proses pembelajaran matematika seringkali muncul faktor–faktor yang menyebabkan siswa merasa kesulitan untuk belajar matematika. Faktor-faktor tersebut dapat timbul dari dalam diri siswa itu sendiri. Seperti, pemikiran siswa yang mengatakan bahwa dia tidak menyukai matematika sebelum siswa tersebut mencoba memahami matematika. Fadjar (2008) “Seorang siswa ditengarai gurunya tidak menyukai matematika. Hal ini ditandai dengan sikapnya yang acuh tak acuh ketika berada di kelas.” Norjoharuddeen (Fadjar, 2008) “ terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran matematika pada diri setiap siswa, yaitu: (1) faktor kognitif dan (2) faktor non-kognitif. … . terdapat dua faktor non-kognitif … yaitu: (1) faktor afektif dan (2) faktor metakognitif. ” Schoenfeld (Fadjar, 2008) berdasarkan pendapat Flavell istilah metakognitif mengacu pada dua hal, yaitu: (1) pengetahuan atau kesadaran seseorang tentang proses berpikir dirinya sendiri … dan (2) pengendalian diri (kontrol atau self regulation) selama berpikir…. Faktor afektif mengacu pada berbagai perasaan (feelings) dan kecenderungan hati (mood) yang secara umum termasuk kepada hal–hal yang tidak berkait dengan kemampuan berpikir … .” Munculnya sikap atau pemikiran tersebut jelas dapat mempengaruhi proses pembelajaran matematika. Fadjar (2008) “… sikap negatif tidak dapat membantu siswa untuk menghargai mata pelajaran matematika dan tidak dapat membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya.”
Kemudian rasa malas yang timbul dari diri siswa dalam pengerjaan soal, apalagi membuktikan suatu teori dari suatu konsep yang telah dipahami. Padahal, Dienes (Kristiyanto,2007) menyatakan bahwa tiap – tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik, kemudian suatu proses pemahaman (abstraction) berlangsung selama belajar.
Selain itu, kebiasaan siswa yang seringkali menghapal apa yang dipelajari (seperti rumus) tanpa tahu konsep dari materi yang dipelajari juga merupakan faktor yang mengakibatkan siswa merasa sulit untuk belajar matematika karena menganggap bahwa matematika itu banyak rumus. Padahal pemahaman sebuah konsep merupakan dasar dari pembelajaran matematika. Romberg (Nuriana, 2007) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Sehingga siswa tersebut tidak lagi menganggap belajar matematika itu sulit karena siswa telah mampu berpikir kreatif.
Faktor–faktor yang menyebabkan siswa merasa sulit untuk belajar matematika selain timbul dari dalam diri siswa, dapat juga berasal dari para pengajar atau guru (meskipun tidak semua guru seperti ini). Pertama, kebiasaan para guru yang memberikan materi dengan cepat dan atau kurang terperinci. Kemudian para guru terkadang lebih sering memberikan rumus – rumus dengan sedikit pemaparan atau penjelasan konsep yang mendasari rumus tersebut. Padahal, untuk membuat siswa lebih menarik dalam belajar matematika tidak seharusnya seperti itu. Dienes (Kristiyanto,2007) “Materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment), sehingga anak–anak dapat bermain dengan bermacam–macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. Berbagai penyajian materi (multiple embodiment) dapat mempermudah prose pengklasifikasian abstraksi konsep.” Selain itu, seharusnya para guru selalu memberikan motivasi agar anak merasa nyaman dengan matematika seperti memberikan ilustrasi–ilustrasi pada saat proses pembelajaran. Dienes (Kristiyanto,2007) “ memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material konkret dengan gambar yang sederhana, grafik, peta, dan akhirnya memadukan simbol–simbol dengan konsep tersebut. Langkah–langkah ini merupakan suatu cara untuk memberikan kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formulasi melalui percobaan matematika.”
Kemudian, kurangnya pemaparan akan manfaat atau kaitan langsung dari materi itu sendiri terhadap kehidupan sehari–hari. Padahal matematika itu sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari–hari. Jackson (Nuriana, 2007) secara umum matematika adalah penting bagi kehidupan masyarakat. Romberg (Nuriana, 2007) mengungkapkan bahwa matematika diajarkan di sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka panjang (long-item functional needs) bagi siswa dan masyarakat.
Ternyata penyebab kesulitan yang dialami oleh siswa tidak hanya sebatas itu, melainkan ada hal lain yang menjadi penyebab siswa merasa kesulitan belajar matematika yaitu diskalkulia (sebuah penyakit yang menyebabkan kesulitan dalam berhitung). Jacinta (Nakita, 2006) “ Diskalkulia disebut juga dengan istilah “math difficulty”karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukan kesulitan dalam memahami proses–proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.”

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemikiran dan temuan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa faktor yang menjadi penyebab siswa merasa sulit belajar matematika dapat timbul dari dalam diri siswa seperti sikap dan pemikirannya, kemudian dari cara penyampaian materi oleh pengajar atau guru, dan juga diakibatkan dari suatu penyakit yang bernama diskalkulia yang mungkin menimpa siswa.

Saran
Berdasarkan uraian simpulan yang telah dikemukakan, maka diajukan saran sebagai berikut. Kepada siswa disarankan agar terlebih dahulu mengenal matematika sebelum beranggapan bahwa belajar matematika itu sulit serta memahami terlebih dahulu suatu konsep sebelum mengaplikasikannya pada suatu permasalahan. Bagi para guru disarankan agar dapat memaparkan materi dengan memberikan pemahaman akan konsep dari materi tersebut serta memberikan penjelasan tentang kaitan–kaitannya dalam kehidupan sehari–hari agar siswa dapat memahami matematika itu sendiri dan mengetahui manfaat matematika terhadap kehidupan bermasyarakat yang ternyata sangat besar.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kristiyanto, Al. (2007). Pembelajaran Matematika Berdasarkan Teori Dienes. [Online]. Tersedia: http://www.kris-22.blogspot.com/2007/12/Pembelajaran-Matematika-Berdasar-Teori_04.html. [26 Mei 2009]
Nakita. (2006). Mengenal Gangguan Belajar Diskalkulia dan Disgrafia. [Online]. Tersedia: http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg02650.html. [12 Mei 2009]
R. D, Nuriana. (2009). Pembelajaran Matematika Dengan Teori Belajar Konstruktivisme. [Online]. Tersedia: http://www.rmakoe.wordpress.com/2009/02/27/Pembelajaran-Matematika-Dengan-Teori-Belajar-Konstruktivisme/. [26 Mei 2009]
Shadiq, Fadjar. (2008). Bagaimana Cara Guru Memanfaatkan Faktor Sikap Dalam Pembelajaran Matematika? [Online]. Tersedia: http://www.Fadjarp3g.files.wordpress.com/2008/12/08-afektif_limas_1.pdf. [12 Mei 2009]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar